Tech

Contoh Praktis Membangun MVP yang Sukses: Buat Berdasarkan Insight

Umpan balik (feedback) bisa jadi pisau bermata dua. Memintanya dengan cara yang salah tidak hanya akan memberimu informasi berkualitas buruk, tapi juga akan melukai bisnismu.

Sering kali, feedback yang diberikan hanya berdasarkan pendapat subjektif bukan bertolak dari fakta. Umpan balik yang buruk akan menjerumuskan kamu ke arah yang salah, serta memberikan masukan keliru.

Jadi, bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan masukan berharga dari para pengguna, pelanggan potensial, dan para pemangku kepentingan?

Memahami masalah

Filtered.ai adalah startup besutan perusahaan modal ventura (VC) Techstars. Startup ini dipimpin oleh Paul Bilodeau sebagai CEO dan Derek Bugley. Keduanya merupakan peserta yang pernah saya dampingi di acara 2018 Techstars Anywhere.

Filtered didirikan sebagai perusahaan konsultan data science. Ketika sedang mencari anggota tim developer software, mereka menerima ratusan lamaran kerja yang tidak memenuhi kriteria. Merespons kejadian tersebut, mereka mengembangkan tes coding sederhana yang bisa digunakan sebagai filter.

Minimum Viable Product (MVP) mereka segera membuahkan hasil. Para perekrut hanya bisa mengirimkan resume kandidat engineer yang telah berhasil mencapai skor tertentu dalam tes, sehingga memangkas waktu dan biaya merekrut para kandidat developer secara signifikan.

Tanpa sepengetahuan Filtered, beberapa perekrut yang melek teknologi mulai menggunakan tool ini untuk klien perusahaan masing-masing. Perusahaan-perusahaan ini sering terjebak dalam sistem dan proses perekrutan karyawan yang sudah kuno. Mereka tidak bisa memanfaatkan teknologi modern.

Salah satu perusahaan produsen bahan kimia yang masuk dalam daftar Fortune 500 memiliki hasil perekrutan developer software seperti ini:

  • Setelah melakukan seleksi wawancara via telepon dengan 10.000 orang, mereka hanya akan mengundang 1.627 kandiat untuk yang lolos ke tahap wawancara teknis. Selanjutnya, ada 23 persen kandidat yang menolak tawaran, sehingga pada akhirnya hanya tersisa 4 persen kandidat yang dinyatakan lolos (standar industri pada umumnya berada pada angka 30 persen).
  • Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengisi lowongan kerja adalah 126 hari.
  • Biaya yang dikeluarkan untuk setiap kali perekrutan lebih dari US$40.000 (sekitar Rp517 juta).

Perusahaan ini kemudian meminta Paul dan timnya datang untuk mendiskusikan bagaimana menyelesaikan masalah perekrutan karyawan mereka dengan menggunakan teknologi.

Membedakan opini dari insight

Meski MVP dari Filtered dapat menyelesaikan masalah dalam skala kecil yang mereka hadapi, apa yang akan terjadi ketika produk tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah dari suatu perusahaan besar yang telah terkurung dalam sistem perekrutan sama selama puluhan tahun? Bagaimana cara menyelesaikan problem itu, baik dalam skala startup baru atau perusahaan besar?

Berikut adalah beberapa taktik yang mungkin kamu lakukan baik pada level awal maupun yang lebih tinggi:

  • Mintalah masukan mengenai fitur produkmu dengan menggunakan tool online seperti UserVoice.
  • Kirimkan demo atau tawarkan uji coba produk MVP dan tanyakan umpan balik melalui survei.
  • Tawarkan solusi melalui telepon atau bertemu langsung dan perhatikan apakah pelanggan potensial menyukai ide tersebut.
  • Tanyakan kepada pengguna potensial melalui telepon atau tatap muka, apa yang mereka inginkan di sistem software perekrutan modern.
  • Tanyakan juga bagaimana proses rekrutmen yang mereka terapkan sekarang.
  • Tanyakan apa yang tidak mereka sukai dari sistem saat ini.
  • Wawancarai pemangku kepentingan lainnya, seperti manajer tim perekrutan, mengenai sistem yang sedang diterapkan saat ini, prosesnya, serta hasil yang didapatkan.
  • Cobalah melakukan observasi langsung di lapangan untuk melihat cara sistem dan cara kerjanya.
  • Lakukan eksperimen untuk mengukur tingkah laku apakah pengguna telah mendapatkan nilai yang diharapkannya dari produkmu.

Filtered menggabungkan taktik ini, tapi dengan tujuan objektif untuk mengetahui informasi berharga (insight) apa saja yang dimiliki pelanggan. Insight adalah keunggulan yang ada, bukan umpan balik.

Umpan balik hanya diberikan sebagai respons dari apa yang kamu lakukan, sehingga hal ini akan membatasi konteks dan insight yang semestinya bisa kamu dapatkan.

Paul dan timnya melakukan observasi tim SDM perusahaan, dan menemukan masalah-masalah ini:

  • Tim SDM butuh waktu lima hari untuk melihat suatu resume setelah diunggah di sistem. Butuh lima hari lagi untuk menjadwalkan wawancara via telepon.
  • Tim perekrut memberikan pertanyaan teknis yang mereka sendiri tidak pahami, seperti pertanyaan tentang bahasa pemrograman Javascript.
  • Pada akhirnya, keputusan seleksi kerja bergantung pada pertanyaan, “Mengapa kamu ingin bekerja di sini?”

Ketika Filtered menanyakan hal ini, perwakilan dari SDM akan mengatakan, “Ya, kan pada akhirnya tidak ada yang cocok juga.”

“Para perekrut menanyakan hampir semua hal,” kata Paul. ”Mereka bahkan menanyakan fitur-fitur yang tidak mereka butuhkan hanya karena tersedia di produk lain.”

Masalah lainnya muncul ketika Filtered dipaksa untuk membuat produk yang punya fitur-fitur serupa dengan yang digunakan oleh tim HR sekarang.

“Para perekrut akan menghabiskan waktu hingga sepuluh menit untuk mengeluhkan sistem lama mereka, kemudian meminta kami untuk mengintegrasikan sistem itu ke produk yang sedang kami bangun. Masalahnya, sistem itu dibuat pada tahun 1998 dan tidak memiliki antarmuka yang bisa diintegrasikan,” ujar Paul.

Mereka menyediakan sederet daftar fitur tanpa memperhatikan mana yang sebenarnya dibutuhkan. Ini adalah sisi negatif dari umpan balik. Tapi Paul dan timnya mengerti bagaimana tidak berharganya umpan balik jika hanya berdasarkan pendapat semata.

Membangun produk untuk pengguna akhir

Filtered mengetahui bahwa para anggota tim SDM adalah pihak pembuat keputusan untuk menentukan pembelian produk yang ditawarkan, tapi pihak yang akan mendapat manfaat paling besar sebenarnya adalah para manajer SDM di bidang teknis. Jadi tim Filtered menghabiskan waktu dengan para manajer ini untuk memahami problem serta titik kesulitan perekrutan yang mereka hadapi.

Mereka menemukan hal-hal luar biasa, seperti tingkat frustrasi yang tinggi, semangat yang rendah, serta tingkah laku yang merusak budaya perusahaan. Para manajer ini sangat tidak memercayai proses perekrutan, sehingga mereka memperlakukan para kandidat dengan semena-mena.

Mereka telah mewawancarai banyak sekali kandidat yang tidak memenuhi kualifikasi. Mereka akan masuk ke ruang rapat dan langsung meminta kandidat mulai mengerjakan tes coding.

“Seorang manajer berdiri dan keluar ruangan setelah tiga menit dan mengatakan, ’Kandidat ini tidak bisa coding.’ Lalu meninggalkan kandidat begitu saja,” kata Paul.

“Para kandidat diperlakukan seperti hewan ternak.”

Tidak mengherankan jika 23 persen kandidat yang lolos menolak penawaran. Meski tidak ada seorang pun yang membenarkan tingkah laku manajer tersebut, Filtered mendapatkan banyak wawasan baru tentang masalah yang sudah sangat akut.

Selanjutnya, Paul dan timnya mencatat bahwa tes coding digelar dengan cara yang tidak konsisten. Cara penilaiannya bersifat subjektif dan rentan bias karena bergantung pada suasana hati pewawancara atau kesan yang didapat (misal pengalaman kerja sebelumnya) dari kandidat.

Berdasarkan semua hal yang telah mereka pelajari, Filtered membangun produk MVP sederhana yang memungkinkan kandidat merekam video perkenalan, mengunggah resume, dan mengikuti tes coding yang sudah sesuai standar. Mereka memantau tingkah laku para pengguna, melihat analitik, dan melakukan perbaikan berdasarkan fitur-fitur yang dipakai pengguna, manfaat fitur, dan lain sebagainya.

Akhirnya mereka mampu menciptakan suatu produk yang unik. Produk tersebut dapat memberikan manfaat bagi para manajer di bidang teknis yang tengah mencari anggota tim baru.

Hasil akhir

Perusahaan produsen bahan kimia tersebut kini mengalami kenaikan angka kandidat yang lolos tes, kerja dari sebelumnya hanya 4 persen menjadi 57 persen. Biaya perekrutan turun drastis menjadi di bawah US$400 (sekitar Rp5,7 juta). Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi suatu posisi menjadi hanya lima hari. Jumlah kandidat yang menolak tawaran pekerjaan menurun jadi tiga persen.

Dengan mendalami suatu permasalahan daripada sekadar menanyakan umpan balik, Filtered tidak hanya berhasil menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh manajer dan tim SDM, tapi juga menangani masalah budaya perusahaan yang lebih besar.

Bahkan di bidang yang sudah lama digeluti pun, seperti perekrutan, mendalami suatu masalah—daripada hanya menanyakan umpan balik—bisa mengungkapkan insight yang berguna baik untuk jangka pendek maupun panjang.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Contoh Praktis Membangun MVP yang Sukses: Buat Berdasarkan Insight appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Tags

Related Articles

Close
Close