Artikel ini dipersembahkan oleh Tech in Asia Jobs. Sedang mencari pekerjaan? Temukan pekerjaan dari berbagai perusahaan seperti GO-JEK, Tokopedia, IDN Media dan lainnya di sini!

Tak peduli apakah kamu baru lulus dari perguruan tinggi atau programmer veteran, sebuah nasihat akan selalu bermanfaat.

Sejumlah perusahaan besar yang dipimpin oleh orang-orang jenius seperti Facebook, Google, Twitter—Mark Zuckerberg, Larry Page, Jack Dorsey—telah mendefinisikan bagaimana dunia bekerja. Ide-ide mereka membentuk bagaimana komunitas digital beraktivitas setiap harinya.

Tapi mereka tidak meraih sukses hanya dengan membagikan kata-kata insipratif di Facebook. Mereka bekerja, berjuang, dan gagal—sama seperti orang lain.

Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka merespons suatu kesulitan dan perubahan. Berikut adalah beberapa pernyataan bijaksana (serta realistis) dari mereka yang telah berhasil.

Tetapkan tujuan akhir yang ingin kamu capai, bukan jenis pekerjaan

Tujuanmu tidak sama dengan deskripsi pekerjaanmu. Tentu saja, kamu dapat melakukan apa yang kamu suka sepanjang hidupmu. Namun, tanpa kepercayaan dan daya juang untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, hidupmu hanya akan berisi rutinitas kerja setiap hari.

“Tujuan adalah rasa bahwa kita merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, bahwa kita dibutuhkan, dan kita punya sesuatu yang lebih baik untuk diperjuangkan. Tujuan adalah hal yang menciptakan kebahagiaan sejati,” kata Founder dan CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Bangun dan bekerjalah!

Sangat mudah untuk terjebak dalam mimpi muluk—mengubah dunia, membangun Facebook lainnya. Mimpi adalah mimpi. Kamu dapat membuat mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi pada akhirnya, dunia tidak bisa berubah hanya dengan mimpi saja, kamu harus bekerja keras.

“Inovasi yang dibicarakan di industri adalah omong kosong. Siapa pun bisa berinovasi. Semua hype itu bukan tempat dari kerja yang sesungguhnya. Pekerjaan sesungguhnya terletak di detail,” kata perintis pengembangan sistem operasi Linux, Linus Torvalds, di ajang Open Source Leadership Summit tahun ini.

Kamu akan gagal, tapi siapa yang peduli?

Dalam buku laris berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck, bloger sekaligus penulis Mark Manson membagikan pandangannya tentang bagaimana memperhatikan terlalu banyak hal, termasuk kegagalan, dapat menyebabkan kehancuran. Menurutnya, hidup terlalu pendek untuk peduli terhadap segala hal. Selain itu, mengejar pengalaman positif sepanjang waktu, bahkan kesuksesan, sebenarnya bisa berefek sebaliknya.

“Kunci untuk kesehatan mental, seperti halnya kesehatan fisik, dimulai dari kesadaran untuk merangkul hal-hal yang kurang disukai—yaitu, menerima kegetiran atas kenyataan hidup: kenyataan seperti, ‘Tindakanmu sebenarnya tidak berarti banyak di dunia luas,’ dan ‘Sebagian besar hidupmu akan membosankan dan tidak patut mendapat perhatian, tapi itu bukan masalah.’

“Realitas ini tentu akan terasa buruk pada awalnya, bahkan sangat buruk. Kamu akan mencoba menghindar untuk menerimanya. Tapi, setelah dicerna, tubuh kamu akan terbangun dengan perasaan yang lebih kuat dan hidup.

“Tekanan untuk jadi orang hebat, untuk melakukan sesuatu yang besar, akan hilang dari pundakmu. Stres dan kecemasan yang timbul dari perasaan bahwa dirimu tidak cukup baik akan sirna. Mengetahui serta menerima bahwa dirimu tidak punya peran besar di dunia justru akan membebaskanmu untuk mencapai apa yang benar-benar ingin kamu raih, tanpa penghakiman atau harapan yang muluk.”

Jika kamu gagal, berubahlah

Berjuang keras melawan kegagalan dan penolakan adalah respons normal manusia. Namun berkutat dalam perjuangan tersebut selama berbulan-bulan tidaklah baik. Jika kamu gagal, tentu saja kamu dapat sedikit menangis, tapi pada akhirnya gunakan kegagalan tersebut sebagai kesempatan untuk berubah—atau dalam istilah Eric Ries, lakukan pivot.

Kegagalan adalah pertanda bahwa sesuatu tidak bekerja dengan baik. Terkadang sesuatu itu adalah kamu, terkadang, mereka. Terlepas dari itu, hanya satu cara yang tepat untuk merespons: berubahlah menjadi lebih baik, ubahlah cara kamu merespons suatu kejadian.

“Pivot bukan hanya desakan untuk berubah. Ingat, itu adalah jenis khusus dari perubahan terstruktur untuk menguji hipotesis dasar baru … jika kita mengambil jalan yang salah, kita punya alat yang menyadarkan kita akan itu, dan kelincahan untuk menemukan jalan lain,” ungkap Eric Ries dalam buku karangannya The Lean Startup.

Hidup tidak hanya tentang karier

Sudah jadi rahasia umum bahwa para pencandu kerja tidak akan lama bertahan hidup. Mereka sering sakit, tidak punya waktu untuk orang yang mereka cintai, dan hidup mereka berakhir di kantor.

Ada banyak hal di luar aktivitas rutin kantor dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Percaya atau tidak, meluangkan waktu untuk mengerjakan kegiatan lain dalam hidup juga dapat menghasilkan keajaiban bagi karier dan prestasi kerjamu.

“Ketika saya masih muda, saya tidak mengerti manfaat dari olahraga dan pengaruhnya terhadap intelektualitas saya. Saya pikir, dulunya akan lebih baik untuk melakukan hal-hal ekstrem guna menciptakan keseimbangan dalam hidup seperti yang saya miliki sekarang.

“Tapi saya berharap bisa lebih fokus untuk menjadi lebih sehat di masa lalu. Gaya hidup yang lebih sehat pada akhirnya akan membuat saya lebih kreatif dan berpikir lebih kohesif,” ujar CEO Twitter Jack Dorsey.

Nasihat umum seperti “ikuti kata hatimu” dapat membuat kamu merasa baik untuk sementara, tapi jumlah like dan share di Facebook tidak bisa mendatangkan makanan untukmu.

Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh ribuan kisah “cara cepat kaya” yang bisa kamu temukan di mana-mana. Ini tentang melakukan pekerjaan. Ini tentang menjalani hidup.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Tip Membangun Karier dari Sejumlah Sosok Terkenal di Bidang IT appeared first on Tech in Asia.

The post Tip Membangun Karier dari Sejumlah Sosok Terkenal di Bidang IT appeared first on Tech in Asia Indonesia.